Senin, 15 November 2010

Pendidikan Anak dalam Islam

A.     Pengertian dan Tujuan Pendidikan Anak Dalam Islam
      1. Pengertian Pendidikan Anak dalam Islam
Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memberi awalan “pe“ dan akhiran “kan“, mengandung arti “perbuatan“ (hal, cara dan sebagainya). Istilah pendidikan semula berasal dari bahasa Yunani yaitu “Paedagogie“, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam    bahasa Inggris dengan “education“ yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa arab istilah ini sering diterjemahkan  dengan“Tarbiyah“ yang berarti pendidikan.[1]
Sedangkan pengertian anak dalam kamus besar bahasa Indonesia yaitu : “(1) keturunan, (2) manusia yang masih kecil.[2]
Maka pendidikan tidaklah semata-mata kita menyekolahkan anak ke sekolah untuk menimba ilmu pengetahuan, namun lebih luas dari itu. Seorang anak akan tumbuh kembang dan baik manakala ia memperoleh pendidikan yang parpurna (komprehensif),a agar kelak ia menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, bangsa, negara dan  agama. Anak yang demikian ini adalah anak yang sehat dalam arti luas, yaitu sehat fisik, mental-intelektual, mental sosial dan mental spiritual. Pendidikan itu sendiri sudah harus dilakukan sedini mungkin di rumah maupun di luar rumah, formal di institut pendidikan dan non formal di masyarakat.[3]


Sedangkan pengertian Islam itu sendiri yaitu “Agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SWT.[4] Agama islam merupakan sistem tata kehidupan yang pasti bisa menjadikan manusia damai, bahagia dan sejahtera.
Sedangkan menurut Zakiah Daradjat pendidikan anak dalam Islam adalah lembaga pendidikan yang melaksanakan pembinaan pendidikan secara Islami dan pengajaran dengan sengaja, teratur dan terencana, guru-guru yang melaksanakan tugas pembinaan, pendidikan dan pengajaran tersebut adalah orang-orang yang telah dibekali dengan pengetahuan tentang anak didik dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas kependidikan.[5]
Karena sesungguhnya pendidikan adalah masalah penting yang aktual sepanjang zaman. Karena pendidikan orang menjadi maju. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan teknologi orang mampu mengolah alam yang dikaruniakan Allah SWT kepada manusia. Islam mewajibkan setiap orang baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu dan  dianjurkan untuk belajar sejak dari buaian sampai keliang lahat.
Pendidikan agama Islam sangat penting bagi kehidupan manusia, terutama dalam mencapai ketentraman batin dan kesehatan mental pada umumnya. Tidak diragukan lagi, bahwa agama Islam merupakan bimbingan hidup yang paling baik, pencegah perbuatan salah dan mungkar yang paling ampuh, pengendali moral yang tiada taranya. [6]
Sebab agama bukan ibadah saja, agama mengatur seluruh segi kehidupan, semua penampilan ibu dan bapak dalam kehidupan sehari-hari disaksikan dan dialami oleh anak bernafaskan agama, disamping latihan dan pembiasan tentang agama, perlu dilaksanakan sejak si anak masih kecil, sesuai pertumbuhan dan perkembangan jiwanya. Anak mengenal Tuhan melalui ucapan ibunya waktu ia masih kecil. Apapun yang dikatakan ibunya tentang Tuhan akan diterimanya dan dibawanya sampai dewasa.
Pendidikan anak perlu diperhatikan jika kita bersalah dalam mendidik anak, maka bahayanya tidak menimpa anak itu saja, akan tetapi mengenai banyak orang, masyarakat, bahkan mungkin berpengaruh terhadap generasi berikutnya. Karena itu pendidikan Islam memberikan bimbingan dan petunjuk kepada semua penanggung jawab dan penyelenggara pendidikan, baik didalam keluarga, sekolah dan di masyarakat. Jadi pendidikan anak dalam Islam yaitu usaha berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak jika selesai pendidikanya dapat memahami, mengerti adn mengamalkan agama Islam serta menjadikannya sebagai jalan kehidupan baik pribadi mampu kehidupan masyarakat.
2. Tujuan Pendidikan Anak dalam Islam
            Sementara itu tujuan pendidikan dalam Islam secara garis besarnya adalah untuk membina manusia agar menjadi hamba Allah yang sholeh dengan seluruh aspek kehidupannya, perbuatan, pikiran dan perasaannya, karena pendidikan merupakan suatu usah adan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, tujuan bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi ia merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya.[7]
            Menurut Rifa'atul Mahmudah ada 3 hal tujuan pendidikan anak dalam Islam yaitu:
1.      Anak sebagai penerus perjuangan tiap manusia mengembann "misi", manusia harus jadi "khalifah" di muka bumi ini. Tugasnya mengarahkan manusia untuk "ibadah kepada Allah" dan mengelola alam sekitarnya sehingga memberi iklim yang kondusif (mendukung) untuk "ibadah". Perjuangan itu harus dilakukan terus menerus, dilakukan kesinambungan, dari satu generasi ke generasi lainnya. Orang tua sejak dini harus mempersiapkan anak untuk jadi generasi lainnya. Orang tua sejak dini harus mempersiapkan anak untuk jadi penerus "kekhalifahan", karena pada saatnya kelak ia harus tampil di permukaan mengganti generasi tua.
2.      Anak adalah amanah dan fitrah. Tiap manusia adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya. Tiap orang tua akan diminta tanggung jawab tentang anak-anaknya, karena itu Allah berfirman:
!$yJ¯RÎ) öNä3ä9ºuqøBr& ö/ä.ß»s9÷rr&ur ×puZ÷GÏù 4 ª!$#ur ÿ¼çnyYÏã íô_r& ÒOŠÏàtã ÇÊÎÈ
Artinya:  Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. At-Thaghobun: 15)[8]

      Orang tua bisa terangkat harkat dan martabatnya di dunia, juga menikmati kebahagiaan akhirat, jika ternyata anak-anaknya baik. "ada tidak amalan yang tidak putus-putus pahalanya walaupun seseorang telah meninggal, "begitu sabda Nabi, satu diantaranya, anak-anak shaleh yang mendo'akan orang tuanya.
      Tapi bisa juga sebaliknya, orang tua hancur namanya, bangkrut usahanya, karena ulah perbuatan anaknya. Dan di akhirat kecuali ia harus menanggung dosa sendiri, kesalahannya mendidik anak juga harus ditanggungnya.
3.      Anak jadi pengikat tali kasih sayang. Cinta yang menggebu yang membuat lelaki-wanita sepakat memasuki pernikahan kadang tidak lestari, bahkan bisa hilang sama sekali dilanda kebosanan. Jika sudah demikian, segala hal sudah terjadi, masing-masing mencoba berpaling mencari kemungkinan lain kasus penyelewengan suami atau istri sering bermula dari lunturnya cinta dan munculnya kebosanan.[9]
Kehadiran anak bisa memupuk kembali cinta yang luntur, merubah kebosanan dengan kegairahan. Hubungan suami istri yang berjalan puluhan tahun terkait dengan datangnya anak di tengah-tengah mereka. Seakan-akan "anak" menjadi perekat hubungan.
Rasa kangen terhadap istri bisa di tahan, tapi kangen terhadap anak jika tidak lekas di temukan benar-benar berat. Begitu cerita seorang suami. Dan sebaliknya seorang isteri bercerita, "suami pergi lama memang menimbulkan rasa rindu, namun jika anak ada di rumah, kerinduan itu bisa di tanggulangi.
Oleh karena itu pendidikan Islam bertujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan, dan indera. Pendidikan ini harus melayani pertumbuhan manusia dalam semua aspeknya, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, ilmiah, maupun bahasanya (secara perorangan maupun secara berkelompok). Dan pendidikan ini mendorong semua aspek tersebut ke arah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup.[10]
Dari untuk semua itu adalah firman Allah, seperti terlihat dalam QS. Al-An'am: 162 yang berbunyi:
ö@è% ¨bÎ) ÎAŸx|¹ Å5Ý¡èSur y$uøtxCur ÎA$yJtBur ¬! Éb>u tûüÏHs>»yèø9$# ÇÊÏËÈ
Artinya:  Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An'am: 162)[11]

Dengan demikian, maka tujuan pendidikan Islam, jika diringkaskan, adalah mendidik manusia agar menjadi hamba Allah seperti Nabi Muhammad Saw. Dan sifat-sifat yang harus melekat pada diri hamba Allah itu adalah sifat-sifat yang tercermin dalam kepribadiannya. Di antara sifat-sifat itu adalah:
1.      Beriman dan beramal shaleh untuk mencapai hasan fi-dunnya dan hasanah fil-akhirah
2.      Berilmu yang dalam dan luas, bekerja keras untuk kemakmuran kehidupan
3.      Berakhlak mulia dalam pergaulan
4.      Cakap memimpin di permukaan bumi
5.      Mampu mengolah isi bumi untuk kemakmuran umat manusia
6.      Dan sifat-sifat mulia Nabi Muhammad yang lainnya.[12]
Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa pendidikan Islam mempunyai tujuan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam kebutuhan hidup manusia sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial yang menghamba kepada khaliknya yang dijiwai oleh nilai-nilai ajaran agama. Oleh karena itu, pendidikan Islam bertujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indera pendidikan ini harus melayani petumbuhan manusia dalam semua aspek, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, maupun aspek ilmiah, (secara perorangan, maupun secara berkelompok), dan pendidikan ini mendorong aspek tersebut ke arah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup.


[1] Ramyulis, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta, Kalam Mulia, 2004) cet ke-4 h.1
[2] Anton. M. Moeliono, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta, Balai Pustaka . 1989 h.30)
[3] Dadang Hawari, Al-Qur-an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta : Pr. Dasa Bhakti Yasa 1997) cet, ke-3 h.15
[4] Anton M. Moediono, Op. cit h.340
[5] Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah. (CV. Ruhama, Jakarta. 1995). Cet 2 h. 69
[6] Ibid h. 75
[7] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), cet. Ke-5, h. 29
[8] Hasby Ash-Shiddiqi, Al-Qur'an dan Terjemahannya, (Surabaya: CV Al-Hidayah, 1998), h. 943
[9] Rifa'atul Mahmudah, Makna Kehadiran Anak, (Jakarta: BPQ Pusat, 1992), no. 293
[10] M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), cet. Ke-9, h. 90
[11] Hasbi Ash-Shiddiqi, Op.Cit, h. 216
[12] Baihaqi Ak, Mendidik Anak dalam Kandungan Menurut Ajaran Paedagogis Islam, (Jakarta: Darul Ulum Press, 200), cet. Ke-1, h. 15

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger